Perkenalan: Sudut Pandang Seorang Guru Honorer
9:24 AMHalo!
Tulisan ini adalah coretan pertama saya tentang balada kehidupan seorang guru. Sebelumnya, saya mohon maaf apabila tulisan awal saya ini mungkin membuat beberapa pihak tidak nyaman. Seperti tertulis di bio, saya adalah seorang lulusan universitas keguruan negeri di kota Malang pada tahun 2015. Jurusan studi yang saya tempuh adalah pendidikan biologi. Pada saat itu, semasa saya hanya mengenal dosen, jadwal kuliah, jadwal rapat, dan deadline lomba, tidak pernah terbayang akan menjadi seorang guru dengan jabatan awal sebagai guru tidak tetap (GTT) alias "Guru Honorer".
Berita tentang rendahnya gaji seorang guru honorer adalah nomor satu dari sekian alasan saya menjadi anti-guru-honorer. Kabar bahwa seorang guru honorer kerap bekerja lebih keras dan menjadi junior dibanding rekan kerja yang sudah PNS menjadi alasan nomor dua dan nomor tiga. Sisanya, tentu saja sentimen-sentimen negatif yang kerap beredar kemudian berhembus hilang semasa saya kuliah. Lalu kenapa sekarang menjadi seorang guru honorer?
Berita tentang rendahnya gaji seorang guru honorer adalah nomor satu dari sekian alasan saya menjadi anti-guru-honorer. Kabar bahwa seorang guru honorer kerap bekerja lebih keras dan menjadi junior dibanding rekan kerja yang sudah PNS menjadi alasan nomor dua dan nomor tiga. Sisanya, tentu saja sentimen-sentimen negatif yang kerap beredar kemudian berhembus hilang semasa saya kuliah. Lalu kenapa sekarang menjadi seorang guru honorer?
Jawabannya tentu saja harapan dan "titipan" ibu. Walau tidak benar-benar mencari tempat sebagai seorang guru (karena pada saat itu saya memang masih satu kali menaruh lamaran di sebuah sekolah yayasan untuk menggugurkan kewajiban seorang anak. hehe), rupanya Allah SWT ingin memberi saya pelajaran tentang Sudut Pandang Seorang Guru Honorer melalui pihak sekolah tempat saya PPL dulu. Seorang guru (yang kebetulan adalah mantan guru pamong PPL) di sekolah tersebut menghubungi saya dan menyampaikan kabar bahwa sekolah sedang membutuhkan seorang guru IPA. Lagi-lagi karena mindset anti-guru-honorer, komunikasi dari pihak sekolah tidak langsung saya amini. Beberapa hari kemudian, setelah meminta pendapat bapak-ibu, berdiskusi dengan ibu pengelola bimbel tempat saya mengajar, curhat dengan teman dekat dan sahabat, barulah saya menjawab iya pada pihak sekolah dengan niatan, "Baiklah, saya disini hanya satu semester. Satu semester saja".
E e nyatanyaa... Memang, sebulan dua bulan adalah bulan awal adaptasi dengan siswa, rekan kerja, dan berbagai administrasi pendidik. Bulan-bulan berikutnya, saya mulai bisa mengikuti percakapan di ruang guru, merasakan ikatan batin dengan siswa, dan hari-hari berikutnya terasa penuh dengan ide-ide bagaimana siswa saya bisa mencapai tujuan pembelajaran. Melalui kesempatan belajar mengajar langsung di lapangan yang ternyata memasuki masa semester ketiga ini, tentu saja perlahan saya merasakan bahwa mindset anti-guru honorer saya saat itu hanyalah pemikiran dangkal yang tidak berdasar pada pengalaman. Saya mengalami perubahan sudut pandang tentang profesi seorang guru honorer. Perubahan sudut pandang tersebut kiranya bisa saya rangkum seperti ini:
"perlahan saya merasakan bahwa mindset anti-guru honorer saya saat itu hanyalah pemikiran dangkal yang tidak berdasar pada pengalaman" |
- Guru honorer harus kerja ekstra saat mengajar
Setelah masuk dunia ke-guru-honorer-an, nyatanya saya tidak merasa kerja seorang guru honorer itu harus ekstra banget. Ya, tergantung jatah jam mengajarnya juga kali ya. Di semester awal mengajar, saya diberi jatah 20 jam mengajar per minggu, kemudian menjadi 25 jam, dan terakhir 15 jam mengajar di semester ketiga ini. Pengalaman sih, kalo 25 jam ya ngos-ngos-an (hehe). Malah sebenarnya setelah dipikir-pikir, menurut saya sebenarnya lebih ekstra guru PNS karena beliau-beliaunya punya jatah jam mengajar minimum per minggunya. Nah, kalau yang dimaksud kerja ekstra itu adalah pada bagian mendidik karakter dan akhlak siswa, saya rasa setiap pendidik pasti punya tanggung jawab moral tersebut, nggak peduli guru tetap atau tidak tetap. - Guru honorer biasanya disuruh-suruh terus sama guru PNS
Saya termasuk salah satu korban yang termakan kabar ini pada awalnya. Tetapi setelah memasuki dunianya langsung, saya tidak pernah mengalami langsung praktik "suruh menyuruh antar guru" tersebut. Kalau dimintain tolong ya pernah. Misal yang begini nih,
"Mbak Rinda, nanti aku ada tugas ke dinas, sampean kosong nggak jam ke 6-7? Bisa tolong piketin ke kelas 8C? Tugasnya ini mbak"
Nah itu salah satunya. Masa iya kita nggak mau nolong? Terlebih, tugas yang diberikan rekan yang izin biasanya tugas untuk siswa merangkum atau mengerjakan soal, bukan tugas untuk kita gantikan beliaunya mengajar. Kecuali kalau dari diri sendiri berinisiatif mengajar ya nggak papa juga sih. Itung-itung amal. Hehe. - Guru honorer gajinya nggak manusiawi
Nah, masalah hajat hidup urusan perdapuran ini memang tidak bisa saya pungkiri. Perbandingannya begini, jika kita punya teman yang bekerja di sebuah perusahaan, maka mungkin gaji seorang guru honorer tidak mencapai seperempatnya. Sistem gajinya memang sedikit berbeda karena gaji yang kita terima hanya gaji seminggu dalam sebulan. Jadi begini maksudnya, misal:
- X adalah guru honorer di kota B dengan jatah mengajar 20 jam per minggu.
- di kota B, standar gaji guru honorer adalah Rp. 20.000,-
- Normalnya, X seharusnya menerima gaji sebesar Rp. 1.600.000,- dengan perhitungan 20 jam x Rp. 20.000,- x 4 minggu.
- Nyatanya, gaji yang X terima hanya akan sebesar Rp. 400.000,- dengan perhitungan 20 jam x Rp. 20.000,- x 1 minggu.
2 komentar
Semoga jadi ladang amal ya deek, tetap semangaat
BalasHapusAmiin.. Makasih banyak mbak Intan :)
Hapus